10 Oktober 2016

Awas! Hindari Punya Rumah Disekitar Bandara

Penelitian yang dilakukan oleh Marta Rojek menunjukkan bahwa untuk orang yang usianya 40 sampai dengan 66 tahun memiliki tempat tinggal disekitar bandara bukan pilihan yang baik.

Ilustrasi Awas! Hindari Punya Rumah Disekitar Bandara

Berikut penjelasan mengapa sebaiknya mereka yang berusia 40 sampai dengan 66 tahun tidak tinggal disekitar bandara.

Sepertinya Anda harus berpikir ulang untuk membeli rumah yang letaknya di dekat bandara. Mungkin bagus dari sisi praktisnya, tetapi bagaimana dengan pengaruhnya terhadap kesehatan? Tidak hanya mengancam kesehatan indera pendengaran, tetapi juga rumah dekat bandara, ancam kesehatan jantung Anda. Demikian diungkapkan sebuah hasil penelitian internasional yang dipresentasikan pada pertemuan European Society of Cardiology di Sophia Antipolis, Perancis baru-baru ini.

Peneliti dari Jagiellonian University Medical College, Polandia, dalam penelitian mereka baru-baru ini berhasil menemukan bahwa bisingnya suara penerbangan di sekitar bandara karena lalu lalang pesawat memberikan pengaruh pada tekanan darah. Mereka yang berada di sekitar bandara berpotensi mengalami hipertensi. Sejumlah studi sebelumnya pun mengatakan bahwa risiko penyakit jantung dan stroke dapat mengalami peningkatan akibat suara bising pesawat yang berseliweran.

Studi terbaru ini dilakukan dengan melibatkan 201 responden berusia 40-66 tahun dimana separuh dari jumlah responden adalah mereka yang tinggal di sekitar bandara dan separuh yang lain tinggal di kawasan yang tingkat kebisingannya rendah. Dari studi ini ditemukan bahwa kelompok orang dengan tingkat kebisingan tinggi 40 persen lebih tinggi risikonya untuk mengalami tekanan darah tinggi dan lebih mungkin untuk mengalami kerusakan jantung.

Meskipun penelitian ini tidak dirancang untuk membuktikan hubungan sebab-akibat, namun pemimpin penelitian ini, Marta Rojek, mengungkapkan bahwa paparan tinggi dari kebisingan udara memiliki keterkaitan erat dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi dan hipertensi. "Perubahan ini kemudian dapat menyebabkan kerusakan aorta dan jantung, yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena serangan jantung," tutur Rojek.

Sumber: wartaproperti.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar